Wednesday, May 31, 2006

Pangeran Rangga Gempol Putera Siapa?

Oleh Hikmawan Saefullah
30/05/06

Sebagian ahli sejarah dari Sunda dan Jawa, terutama dari Cirebon selama ini berkeyakinan bahwa Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata I, atau yang dikenal juga dengan Pangeran Arya Suriadiwangsa merupakan anak tiri atau anak angkat dari Prabu Geusan Ulun dan Ratu Harisbaya. Diantara mereka ada juga yang berkeyakinan bahwa Rangga Gempol merupakan anak kandung hasil hubungan dari pernikahan Ratu Harisbaya dengan mantan Suaminya, Panembahan Ratu, Raja Cirebon, yang ketika dalam kandungannya, ibunya melarikan diri dari Keraton Pakungwati Cirebon dan mengejar rombongan kekasih lamanya, Prabu Geusan Ulun yang hendak kembali ke Keraton Kutamaya di Sumedang Larang. Ketika melarikan diri, Ratu Harisbaya sedang mengandung anak dari Panembahan Ratu.

Pandangan ini, memiliki beberapa kelemahan yang harus dikritisi i, antara lain:

  • Jika diyakini, pandangan seperti ini akan memberikan image bahwa Ratu Harisbaya adalah perempuan atau permaisuri yang sangat tidak bermoral karena kabur di saat sedang mengandung dan tidak mempedulikan ‘tugas’nya sebagai permaisuri resmi Cirebon. Berdasarkan teori propaganda, cerita seperti ini sengaja dibuat untuk menjatuhkan citra atau bahkan ‘membunuh karakter’ Harisbaya dan Kerajaan Sumedang Larang yang dimpimpin oleh kekasihnya, Prabu Geusan, sebagai respon sinis atas konflik yang pernah terjadi antara Kerajaan Cirebon dengan Kerajaan Sumedang Larang berkaitan dengan harga diri Kerajaan Cirebon atas permaisuri Harisbaya.

  • Prabu Geusan Ulun sebagai penguasa Kerajaan Islam Sunda, Sumedang Larang, sebelum peristiwa Harisbaya terjadi, diundang oleh Panembahan Ratu ke Keraton Pakungwati dalam suatu undangan kegiatan keislaman. Baik sebagai penguasa atau sebagai permaisuri, kedua-duanya memahami betul aturan iddah bagi istri yang sedang mengandung. Dimana, si perempuan tidak boleh menikahi lelaki lain sebelum anak yang dikandungnya dilahirkan. Jadi, apakah mungkin saat Harisbaya nekat kabur dari Keraton Cirebon sedang dalam keadaan mengandung Rangga Gempol? Atau mungkin justru belum mengandung sama sekali?
  • Menurut Wd. Dharmawan Ideralam dalam bukunya Benang Merah Sejarah Sumedang Larang (2001), menjelaskan bahwa Pangeran Rangga Gempol I (Bupati I Sumedang Larang) merupakan anak pertama dari pernikahan Prabu Geusan Ulun dengan Ratu Harisbaya dan bukan dari pernikahannya dengan Nyi Mas Gedeng Waru (Ideralam, 2001:32)
  • Berdasarkan silsilah keluarga saya pribadi, yaitu keluarga Sukapura (Tasikmalaya) silsilah teratas antara lain memberikan gambaran yang jelas bahwa Pangeran Rangga Gempol adalah keturunan langsung dari Prabu Geusan Ulun dari Harisbaya.

  • Makam Pangeran Rangga Gempol yang sebelum tahun 1998 diletakkan di Kota Gede, Yogyakarta bersamaan dengan petinggi-petinggi kerajaan Mataram, sudah dipindahkan ke Gunung Rengganis, Dayeuh Luhur, disatu lokasikan secara bersebelahan dengan makam Prabu Geusan Ulun. Ini mengindikasikan bahwa Rangga Gempol adalah anak kandung dari Prabu Geusan Ulun.

Pandangan yang mengatakan bahwa Rangga Gempol bukan keturunan langsung Prabu Geusan Ulun kemungkinan besar akibat mengikuti referensi sejarah dari babad tanah Cirebon, yang mengindikasikan subjektivitas kisah-kisah yang muncul di tengah masyarakat Cirebon dahulu kala ketika terjadinya konfrontasi militer antara pasukan Cirebon dengan pasukan Sumedang Larang berkaitan dengan Harisbaya tanpa membandingkan terlebih dahulu dengan sumber-sumber dari Sumedang itu sendiri. Setidaknya, jika ingin mengambil kesimpulan yang sama juga, hadirkan pula bukti sejarah lain dari perspektif yang berbeda, sehingga pembaca sejarah bisa menilai sendiri kebenarannya.

Jadi, sangat jelas dalam diskursus sejarah ini, bahwa dahulu , Prabu Geusan Ulun dan Ratu Harisbaya akhirnya menikah atas restu Panembahan Ratu sendiri yang didesak oleh Raja Mataram III, Sultan Agung Hadiwijaya untuk meminta ganti rugi berupa daerah SindangKasih (Majalengka), kemudian melahirkan Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata, atau ‘Raden Arya Suriadiwangsa’.


Bibliografi

Wr. Dharmawan Ideralam. 2001. Benang Merah Sejarah Sumedang Larang. Penerbit Kandaga Seni Budaya Sumedang, Sumedang

Yoseph Iskandar. 1997. Sejarah Jawa Barat: Yuganing Rajakawasa. Penerbit CV Geger Sunten, Bandung

1 Comments:

At 9:18 AM, Blogger TATANGMANGUNY said...

Siapa yang menjamin bahwa Harisbaya itu emmang ada!? Kalaulah Harisbaya sedang mengandung,apakah para ulama Islam saat itu merestui ia dinikahi Geusan Ulun? Sebejat itukah Harisbaya berani meninggalkan suami untuk orang lain, seganteng apapun Geusan Ulun? Tidak malukah turunan Sumedang punya ratu bejat? Siapa pula bilang Sindangkasih itu Majalengka dan milik Sumedang?

 

Post a Comment

<< Home